Personal Life

TTC | Cerita Program Hamil

Friday, January 12, 2018

Assalamualaikum,

Bisa dibilang tahun 2017 saya agak jarang ngepost di blog ini dan juga instagram @mrsdelonikacom salah satunya karena di tahun ini saya akhirnya memulai program hamil yang lumayan memakan waktu, biaya, dan semua-muanya, yaitu IVF atau bayi tabung. Yes, akhirnya memasuki tahun ke 7 pernikahan, saya dan suami mulai ikhtiar bayi tabung. Jadi, bisa dibilang selama tahun 2017 kemarin saya memang gak terlalu banyak eksplor tentang skincare dan beauty, makanya jadi jarang di update blog dan Instagramnya. 

Gimanapun juga sejak 2014an blog ini mulai lebih sering bahas tentang beauty, saya agak jarang share hal yang cukup personal disini. Sebenarnya saya pengen lebih sering bahas tentang TTC atau program hamil di blog, tapi kadang bingung mau mulai cerita dari mana. hehe. Makanya saya cuma pernah cerita tentang saat saya keguguran di tahun 2014 dan laparaskopi di tahun 2016. Banyak sebenarnya yang mau dishare, tadinya saya berpikir nanti aja lah di share kalau sudah berhasil, jadi lebih enak sharingnya. Tapi ternyata banyak teman-teman di instagram personal yang @mrsdelonika yang suka curhat dan sharing tentang program hamil dan minta saya share juga di blog, biar gampang dibaca-baca lagi.

Jadi, postingan kali ini bisa dibilang rekap program hamil yang sudah saya jalanin selama ini. Yang perlu saya jelaskan di awal adalah saya dan suami sampai saat ini prefer cara medis. Kami belum mau mencoba cara alternatif seperti pijit-pijit atau ke shinsei dan semacamnya. Masing-masing pasangan pasti punya preferensinya sendiri kan ya. Walaupun sampai saat ini cara medis belum berhasil, tapi kami masih tetap percaya ini cara terbaik untuk ikhtiar. Karena balik lagi, berhasil hamil atau tidak itu kuasa Allah. Kalau Allah bilang jadi, mau sedang tidak program apa-apa pun akan berhasil hamil. Yang penting harus tetap berusaha dan berdoa. Jadi, maafkan kalau ada yang menyarankan cara-cara alternatif, sampai saat ini saya dan suami belum tertarik coba :) 

Mari kita mulai ceritanya dan mungkin ini akan jadi postingan yang panjang banget, karena memang bercerita tentang program yang saya lakukan dalam 2-3 tahun terakhir, tepatnya sejak keguguran di tahun 2014 lalu

Masalah antibodi atau alergi sperma suami

Setelah keguguran, saya dan suami tidak langsung mulai program hamil lagi. Kami agak santai dan berpikir akan ada kesempatan hamil alami kembali. Tapi sampai pertengahan tahun 2015, yang hampir 1 tahun setelah keguguran, masih belum ada tanda-tanda hamil. Saya dan suamipun memutuskan untuk kembali mulai program hamil. Kali ini kami mencoba cek ke Prof. Jacoeb di RS Sam Marie.  Bisa dibilang ini pertama kalinya, saya mencoba dokter cowok. Sebelumnya kami selalu berusaha cari dokter perempuan. Tapi karena adik saya yang paling kecil dulu lahirnya sama Prof. Jacoeb, jadi orang tua meminta kami mencoba ke beliau. Jadi, kami pun mengikuti saran orang tua.

Pertama kali kontrol Prof mengharuskan kami menjalani berbagai tes dulu. Saya harus cek darah berkali-kali, lupa tepatnya berapa kali, tapi setidaknya ada 4x. Plus ada cek mikrokuretase juga yang prosesnya harus dalam kondisi bius total. Suamipun disuruh tes sperma sekitar 2x kalau saya tidak salah ingat. Awalnya saya tidak ada pemikiran apa-apa dan menjalani saja apa yang disarankan sama dokternya. Bahkan saya tidak googling atau cari tau dulu tentang Prof ini, karena benar-benar hanya mengikuti saran orang tua. Pada saat itu saya juga mulai ketemu sama teman-teman #gengttc dan saling berbagi informasi tentang program yang sedang dijalani. Waktu mereka tau saya sedang program di Prof. Jacoeb, hampir semua bilang "pasti nanti hasil ceknya kamu bermasalah di antibodi, jadi alergi sperma dan harus suntik sel darah suami ke istri". Respon saya saat itu cuma "masa sih?". Karena menurut teman-teman, hampir semua orang yang ke beliau pasti dibilang ada masalah antibodi.

Dan ternyata benar saja, begitu semua cek darah sudah keluar hasilnya, saya dan suami kontrol lagi ke beliau dan sesuai dugaan teman-teman saya, hasilnya adalah saya harus suntik antibodi selama 3bulan, dan kalau belum berhasil disarankan untuk laparaskopi. Saat itu yang ada dipikiran saya adalah "masa saya sudah menghabiskan dana hampir 20jutaan untuk berbagai tes, tapi hasilnya benar seperti yang teman-teman saya bilang". Akhirnya setelah diskusi saya suami, kita gak melanjutkan programnya dan memutuskan untuk coba inseminasi aja. 

Disclamer: Saya tidak bilang masalah antibodi ini tidak ada ya atau jangan coba program ini. Karena berdasarkan cerita beberapa teman lain, ada yang gagal IVF tapi setelah coba suntik antibodi dia berhasil hamil alami. Cuma pada saat itu saya dan suami memang memilih untuk tidak melanjutkan program di beliau karena menurut saya prof ini agak galak dan saya jadi kurang nyaman. hehe. Baru 2x kontrol sama beliau tapi saya takut tanya-tanya. Karena pas saya minta dijelaskan tentang suntikan antibodi itupun beliau malah suruh saya tanya sama dokter yang suntik, seperti tidak mau ditanya-tanya. Padahal saya minta dijelaskan kan biar paham dulu sebelum memutuskan mau suntik atau tidak. hehe

Inseminasi

Karena merasa kurang sreg sama program sebelumnya, kami pun kembali ke dr Anggia Melanie di Morula BIC. Beliau adalah dokter yang menangani saat saya keguguran. Sejujurnya, menurut saya beliau agak kurang informatif. Baik sih, tapi kadang saya berasa beliau agak datar dan kalau gak ditanya gak kasih penjelasan apa-apa. Sedangkan namanya pasien, kadang suka bingung mau nanya apa. Sejujurnya, saya pun bingung kenapa waktu itu malah balik ke beliau. haha. Bahkan sama dokter Anggia ini saya menjalani 2x program inseminasi yang dua-duanya belum berhasil. (oh iya, maafkan saya ga jelasin detil apa itu inseminasi yaa. Kalau gak tau ini apa coba googling aja, soalnya bisa makin panjang postingannya kalau saya jelasin lagi apa itu inseminasi. hehe)

Bulan September 2015, saya dan suami mulai kontrol ke dr Anggia dan bertanya apa memungkinkan untuk saya dan suami mencoba inseminasi. Dokter liat kondisi telur saya melalui usg dan lihat hasil tes sperma, dan menurut beliau bisa langsung coba bulan ini. Hanya perlu kontrol sampai ukuran telur minimal 18mm dan dinding rahim minimal 8mm. Jadi inseminasi pertama saya menggunakan cara alami, tanpa ada bantuan suntikan atau obat khusus, hanya vitamin aja kalau gak salah ingat. Saat itu total biasa yang dihabiskan sekitar 4-5jutaan kalau gak salah.

Qadarallah inseminasi pertama gagal dan bulan berikutnya dr Anggia menyarankan untuk coba lagi inseminasi kedua, tapi dengan bantuan suntik stimulasi telur selama 3hari. Total biaya yang keluar untuk percobaan kedua ini pun melonjak jadi 10jutaan. Dan ternyata masih gagal juga. 

Kalau ditanya kenapa gagal, saya pun gak tau. Dokter juga gak punya penjelasan pasti, karena sebenarnya kondisi telur dan sperma sudah ok, tapi memang tingkat keberhasilan inseminasi itu hanya 10-20% saja. Dan sebenarnya semua balik lagi ke ketetapan Allah. Ya, saya tipe yang kalau gagal berarti belum rejeki. Gak usah dipaksa dokternya harus menjelaskan kenapa gagal. Karena memang ada hal-hal yang gak bisa dijelaskan. Kalau semua sudah bagus, tapi masih belum berhasil, ya berarti memang Allah belum berkehandak. ya kan? 

Laparaskopi

Setelah 2x inseminasi gagal, saya dan suami sempat break ke dokter 6 bulanan dan baru pada akhir maret 2016, kami mulai ke dokter lagi. Walaupun masih di Morula BIC, kami memutuskan untuk pindah dokter ke dr Ivan Sini. Dari pertama kali konsul sama beliau, saya dan suami merasa sreg banget dengan cara penjelasan dr Ivan. Beliau pun menyarankan saya untuk laparaskopi agar tau persis apa masalah di rahim saya. Karena kalau hanya melalui usg memang tidak ada masalah serius, cuma biasanya semua akan lebih jelas melalui laparaskopi. Saya udah pernah cerita tentang laparaskopi di blog ini, jadi gak akan diulang lagi ya. 

4 bulan setelah laparaskopi, kami kembali kontrol ke dr Ivan dan bertanya program apa yang sebaiknya kami jalanin, karena saya belum hamil juga. Padahal saat itu beliau cukup yakin saya bisa hamil alami setelah laparaskopi. Saya sempat bertanya apakah perlu coba IVF, beliau menyerahkan ke saya dan suami, tapi menurut beliau coba inseminasi aja dulu sekali lagi. Akhirnya inseminasi yang ke3 pun dijalani dan saat itu biayanya beda lagi, yaitu sekitar 8jutaan (Note. biaya kontrol ke dr Ivan memang lebih mahal dibanding dokter-dokter lain di Morula). Dan kembali lagi inseminasinya belum berhasil. Kami pun kembali break dari dokter, sampai akhirnya tanpa sadar sudah mau 1 tahun dari laparaskopi. Padahal dokter bilang kalau mau program sebaiknya gencarin dalam waktu 1 tahun setelah laparaskopi karena umumnya setahun ini rahim masih relatif bersih. 

IVF (Bayi Tabung)

Saya dan suami kembali kontrol ke dr Ivan setahun pasca laparaskopi yaitu bulan Mei 2017 saat mens ke hari ke3. Saat itu, beliau langsung menyarankan mulai program IVF saat itu juga. Jadi mulai suntik stimulasi malam itu juga. Sempat kaget karena disuruh mulai hari itu juga dan saat itu mau masuk bulan Ramadhan. Tapi setelah diskusi sama suami dan orang tua by phone, kami sepakat  untuk mulai program IVFnya.

Lagi-lagi maafkan saya gak akan jelaskan detil bagaimana proses IVF itu, yang jelas ada 2 tindakan utama dalam IVF, yaitu OPU (ovum pick up) atau proses pengambilan telur, dan ET (embrio transfer) atau proses memasukkan embrio ke rahim. Proses IVF ini panjang banget, sangat berbeda dengan inseminasi yang bisa sebulan selesai. IVF ini bisa berbulan-bulan, setiap orang prosesnya bisa beda-beda.

Saya sendiri mulai stimulasi telur dari pertengahan Mei. Dan hampir setiap 2hari sekali kontrol ke dokter untuk dicek bagaimana perkembangan telurnya. Setiap 2hari sekali juga diharuskan cek darah. Kebayang donk biaya yang keluar setiap minggu aja udah besar dan ini belum bahas biaya IVFnya itu sendiri yaa, baru biaya kontrol dan cek darah. Setelah kontrol rutin, ditambah dengan suntik stimulasi telur yang hampir setiap hari, plus berkali-kali cek darah, akhirnya pertengahan Mei saya masuk proses OPU. Dalam proses ini pasiennya dibius total dan saat itu alhamdulillah saya dapat 11 telur yang kemudian akan dibuahi dengan sperma dan dilihat perkembangannya berapa yang bisa jadi embrio. Setelah dibuahi ada 8 yang berhasil dibuahi sampai hari ke 3 pasca opu. Karena jumlahnya cukup banyak, jadi disarankan untuk dilanjutkan sampai hari ke 5 atau blastosis, dan hasil akhirnya saya mendapat 4 embrio kualitas good di hari ke 5. (maaf ya kalau penjelasannya membingungkan, tapi kalau di googling banyak infonya koq. Ini saya berusaha menjelaskan sesingkat mungkin soalnya. hehe)

Alhamdulillah sudah dapat 4 embrio. Tapi ternyata karena hormon progesteron saya tinggi dan dikhawatirkan akan berpengaruh dengan proses penempelan embrio, dr Ivan menyarankan untuk menunda proses ET sampai 2 siklus mens dan embrionya disimpan dulu jadi frozen embrio. 

FET Pertama

Makanya baru pada bulan Juli, saya menjalani proses FET yang pertama. (karena embrionya frozen, namanya jadi FET atau Frozen Embrio Transfer). Walaupun ada 4 embrio yang hasilnya good, tp dr Ivan menyarankan untuk memasukkan 1 embrio saja. Tadinya saya sempat nanya kenapa gak langsung 2, karena siapa tau bisa langsung kembar, tapi menurut dr. Ivan 1dulu aja karena usia saya juga masih dibawah 35 tahun dan embrionya sudah blastosis yang katanya sih tingkat keberhasilannya cukup tinggi. Akhirnya nurut apa kata dokter dan qadarallah IVF pertama ini belum berhasil juga. Hasil BHCG menunjukkan embrionya tidak menempel sama sekali di rahim saya. Menurut dr Ivan ini masalahnya di embrio. Karena walaupun hasilnya good, tapi memang tidak ada yang bisa menjamin setelah dimasukkan ke rahim dia akan berkembang dengan baik juga. 

Sedih sih karena ekspektasi udah tinggi, tapi ya kalau belum berhasil mau bilang apa lagi. Diikhlasin aja, Allah pasti punya rencana lain. Dan Alhamdulillah saya gak lama-lama sedihnya dan bisa cepat kembali beraktivitas seperti biasa. 

FET Kedua

Karena masih ada 3 frozen embrio lagi, saya dan suami pun berpikir untuk coba FET lagi untuk yang kedua kalinya di bulan November. Tapi karena bulan November dan Desember, dr. Ivan banyak jadwal cuti, jadi kami memutuskan untuk pindah ke dr Aryando Pradana. Kebetulan saat proses kontrol sebelum OPU saya pernah beberapa kali kontrol sama dr Nando dan merasa sreg sama beliau. Menurut saya dan suami, cara beliau menjelaskan mirip dengan dr Ivan, bedanya dr Nando agak lebih santai dan tidak sesibuk dr Ivan. haha (Note: dr Ivan emang sibuk banget, jadi kalau kontrol suka dialihkan ke dr lain, walaupun semua hasilnya tetap dikasih ke dr Ivan. Saat itu saya pernah dialihkan ke dr Reino, dr. Ari, dan dr. Nando. Dan sreg banget sama dr. Nando. Makanya untuk FET kedua ini saya dan suami sepakat untuk ganti dokter aja).

Agak berat sebenarnya cerita tentang FET kedua ini. hehe. Tapi bismillah ya, sesuai janji mau share dan rasanya sekarang waktunya udah pas. 

Kalau saat FET pertama yang dimasukkan hanya 1 embrio, untuk yang kedua ini yang dimasukkan ada 2 embrio. Dan proses setelah FET agak berbeda dengan yang pertama. Karena ada riwayat keguguran plus kegagalan di FET pertama, jadi obat yang dikasih banyaaakk banget, salah satunya adalah obat pengencer darah yang harus disuntikin setiap hari. Alhamdulillah, obat-obat ini sepertinya berfungsi karena saat tes BHCG hasilnya saya positif hamil. Senang pastinya, apalagi saya terima hasil BHCG seminggu sebelum 7 tahun anniversary, jadi berasa dapat kado pernikahan dari Allah.

Tapi ternyata perjuangan belum selesai. Saat USG pertama kali terlihat kantong hamil berusia 5w tapi belum keliatan janinnya. Dokter suruh lanjutkan semua obat dan USG lagi seminggu kemudian. Saat USG ke 2 sebenarnya saya sudah merasa ada yang gak bagus, karena lagi-lagi janinnya belum terlihat. Dokter masih berusaha positive thinking dan ditunggu sampai seminggu lagi. Ternyata lagi-lagi kantong hamil membesar, tapi janin tidak berkembang seperti yang diharapkan. Menurut dr Nando kemungkinan ada masalah kromosom di embrionya. Dan terpaksa harus diluruhkan. Sedihh banget pastinya. Udah senang berhasil hamil, tapi ternyata masih belum waktunya. Yaa mau diapain lagi, cuma bisa terima hasilnya dan move on. Karena dibawa sedih terus juga gak akan merubah apa-apa. Akhirnya mulai awal Januari ini saya minum obat peluruh dari dokter. Umumnya sehari minum udah bereaksi, tapi di saya tidak seperti itu. Bahkan saya sampai minum obatnya selama seminggu dan tetap tidak ada tanda-tanda luruh. Makanya diputuskan untuk kuret yang benar-benar dilaksanakan tanggal 10 januari kemarin. Alhamdulillah proses kuretnya lancar dan sekarang saya bisa nulis ini di blog. hehe

Pertanyaan yang sering ditanya tentang IVF ini adalah berapa biaya yang dikeluarkan? Saat saya daftar program bayi tabung, saat itu ada promo yang biayanya jadi Rp 52.100.000,- Biaya ini termasuk paket suntik stimulasi, opu, dan ET. Tapi kalau suntik stimulasi perlu tambahan ya ada tambahan lagi, dan diluar biaya obat, kontrol, serta cek darah. Belum lagi kalau suntik dan panggil suster ke rumah ada biayanya lagi. Jadi, pada akhirnya biaya yang keluar bisa 2-3x lipat dari biaya promonya. Dan jumlah ini benar-benar berbeda disetiap orang ya. Gak bisa disamain, karena kasus setiap orang juga beda-beda. Beda rumah sakit pun beda biayanya. 

Yang jelas dibalik ini semua, saya bersyukur dikasih Allah suami yang super banget. Masha Allah, couldn't ask for more pokoknya lah. Suami selalu mendampingi saya selama proses IVF (bahkan 80% suntikan dilakukan langsung sama suami, karena kalau setiap hari panggil suster kerumah kan mahal juga ya. hehe), gak pernah nuntut saya harus gimana-gimana yang penting saya  harus happy gak boleh stres, sangat-sangat suportif, alhamdulillah banget pokoknya. Keluarga dan teman-teman pun baik-baik banget. Selama proses IVF ke-2 ini saya dapat banyak sekali support dan doa. Sampai banyak yang berbaik hati kirimin makanan macem-macem. Alhamdulillah banget. Terima kasih semuanya :)

Yaa, hasil IVF kedua ini memang belum seperti apa yang saya dan suami harapkan. Tapi kami percaya ini adalah yang terbaik menurut Allah. Kita gak pernah tau apa rencana Allah ke depannya. Saat ini, karena habis kuret, kami memang harus break dulu dari program hamil selama minimal 3 bulan. Masih ada 1 frozen embrio lagi di Morula. Saya dan suami pun belum tau bagaimana rencana kami ke depan. Untuk sekarang yang pasti jalanin aja, dibawa happy, perbaiki pola hidup, kembali rutinin olahraga, makan makanan yang lebih sehat, dan tentunya berdoa minta sama Allah. Semangaaatt buat semua yang lagi program hamil. Semoga usahanya dipermudah dan dilancarkan sama Allah yaaa. 

Menurut aku, selama program hamil itu yang penting bahagia dan selalu bersyukur. Jangan pernah menyalahkan Allah atau merasa hidup tidak adil. Setiap orang punya masalah dan ujiannya masing-masing. Percaya aja apapun takdir Allah itu pasti yang terbaik. Always be happy and grateful :)

Terima kasih sudah membaca cerita yang panjang ini. Semoga bisa menyemangati teman-teman yang lagi program ya. Ingatlah kalian tidak sendiri, banyak yang juga sedang sama-sama berjuang. Saling mendoakan yaa.

You Might Also Like

14 comments

  1. ya ampun mbak perjuanganmu, aq sedih banget bacanya.. mudah-mudahan segala doa dan kesabaran akan berbuah manis pada waktunya yah mbak.. inshaa allah

    ReplyDelete
  2. Semangat mbak. Tetap usaha dan berdoa. Semoga diberikan yang terbaik ya :')

    ReplyDelete
  3. Kkakkk, semangat terus ya. Semoga fika dan suami sehat selalu 😊😊😊

    ReplyDelete
  4. Masyaallah.. tulisannya bermanfaat bgt. Membacanya aja bikin merinding nangis, apalagi yg nulis yaa.. ��
    Semangat yaa mbak.. semoga Allah segera mengijabah doa2 kita ya mbak..

    ReplyDelete
  5. Ka Fika, tetep semangat ikhtiarnya, dan semoga lekas diberi amanah oleh Allah :)

    ReplyDelete
  6. Mba Fikaaa... Semangat terus jangan menyerah!! Sy jg salah satu pejuang TTC selama 3 tahun ini tp blm berhasi, masih trs semangat. Thanks buat sharingnya ya mba (sy selalu baca postingan IG story mbak ttg program hamil) ttg IVF krn sy blm pernah maju ke tahap ini. Semoga Mba Fika bahagia selalu bersama suami apapun kehendak Allah, inshaAllah tdk akan lama lg Mba akan diberikan kepercayaan yg diharapkan. Aamiin ya Rabb..

    ReplyDelete
  7. Fika luar biasa banget, sangat berjiwa besar.
    Sesama pejuang promil aku bisa banget ngerasaain.
    Dan bisa berbagi cerita demikian pasti lah butuh hati yang sangat lapang.
    Salut buat fika.

    ReplyDelete
  8. kak fikaaa ������ aku beneran ikutan sedih yg pas baca IVF kedua.. kebayang sedihnya.. semoga dimudahkan ikhtiar yg berikutnya dan segera diberikan keturunan yg shaleh /shalelah ya kak.

    ReplyDelete
  9. Sehat dan bahagia selalu ya kak Fika dan suami.. InsyaAllah disegerakan kak.. Semangat kak Fika❤ terima kasih sudah sharing banyak dan bermanfaat.. 😊😊

    ReplyDelete
  10. Kafikaaa.. la ba'tsa tohuruun insyaa Allah 💗 Alhamdulillaah ala kulli hal.. Allah maha baik yaa kak..

    Semoga bisa hamil alami setelah ini. Aamiin aamiin.. barakallaahu fiik

    ReplyDelete
  11. Love u, semoga Allah mudahkan jalanny untuk hamil dan mewujudkan impian kaka untuk menjadi ibu. Terimakasih sharing nya, sangat menguatkan

    ReplyDelete
  12. Masya allah yaa mbaaa, smg ikhtiar berikutnya di Mudahkan oleh Allah, dan diberikan rezeki anak soleh/solihah 😘

    ReplyDelete
  13. Subhanallah Fika, kamu kuat banget yah... selalu semangat yaaa... aku jd terharu bacanya, pokonya selalu ikhlas selalu semangat, semoga break 3 bulan selanjutnya hamil yaaaa...

    biasanya kalau abis di kuret itu malah bisa cepet hamil lho, kaka iparku sm beberapa temen juga gitu...

    succes fika dan suami, langgeng terussss...

    ReplyDelete
  14. kak fika, tetep semangat ya. semoga selalu dilimpahkan rezeki yang berlimpah dan berkah, diberi kesehatan, insyaAllah semua yang terbaik untuk kak fika dan keluarga. Aamiin

    ReplyDelete

I really appreciate every single comment that you left in my blog..Do not hesitate to say anything..but, please use a proper word :)